• Sering mengalami susah tidur dan gelisah di malam hari, mungkin Anda mengalami insomnia
  • Insomnia berdampak menyebabkan gangguan fisik dan gangguan psikis
  • Kejadian Insomnia banyak terjadi pada remaja, orang dewasa, bahkan mencapai angka tinggi pada lansia
  • Hati-hati! Media Elektronik berpengaruh terhadap insomnia pada remaja
  • Pandemic Coronavirus-19 (COVID-19) berdampak terhadap peningkatan kasus insomnia

 

Susah Tidur? Jangan-jangan itu Insomnia!

Tidur merupakan salah satu komponen penting untuk menjaga kesehatan individu. Tanpa tidur, manusia akan mengalami gangguan dalam kualitas hidup. Tidur adalah saat yang ditunggu-tunggu supaya badan bisa beristirahat di malam hari setelah melakukan banyak aktifitas sepanjang hari. Kebutuhan manusia untuk tidur pada bayi adalah 13-16 jam untuk pertumbuhan bayi, pada anak adalah 8-12 jam untuk perkembangan otak anak-anak untuk ketahanan memori, pada dewasa adalah 6-9 jam untuk menjaga kesehatan, dan pada usia lanjut adalah 5-8 jam untuk menjaga kondisi fisik karena usia yang semakin senja mengakibatkan sebagian anggota tubuh tidak dapat berfungsi optimal, maka untuk mencegah adanya penurunan kesehatan dibutuhkan energi yang cukup dengan pola tidur yang sesuai.

Bagi sebagian besar orang, tidur adalah hal yang mudah, namun bagi beberapa orang tidur merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Ketika Anda sering terbangun berkali-kali di malam hari, tidur terasa tidak nyenyak dan merasa gelisah sepanjang malam, atau bahkan tidak bisa tidur sama sekali di malam hari, jangan-jangan Anda mengalami insomnia!

 

Kenali Insomnia dan Dampaknya

Insomnia adalah kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu dan gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun dan beraktivitas pada siang hari. Oleh Levenson dkk (2015) dalam The Pathophysiology of Insomnia disebutkan bahwa gangguan insomnia ditandai dengan ketidakpuasan kronis terhadap kuantitas dan / atau kualitas tidur yang berhubungan dengan kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari dengan kesulitan kembali tidur, maupun bangun lebih awal di pagi hari dari jam bangun yang diinginkan.

Kebiasaan durasi tidur yang pendek merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Apa saja dampaknya jika kualitas tidur buruk?

  • Dari segi fisik, kurang tidur dapat menyebabkan muka pucat, mata sembab, badan lemas dan daya tahan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit.
  • Dari segi psikis, kurang tidur dapat menyebabkan perubahan suasana kejiwaan, sehingga penderita akan menjadi lesu, lamban menghadapi rangsangan dan sulit berkonsentrasi, serta gangguan mood.
  • Apabila hal ini terus berlanjut hingga bertahun-tahun dapat berdampak pada gangguan memori, kemampuan kognitif, serta gangguan kesehatan lainnya seperti tekanan darah tinggi, stroke, serangan jantung, hingga masalah psikologis kronis serta depresi.

 

Data Statistik Penderita Insomnia, Tinggi pada Lansia

Sepertiga orang dewasa mengalami kesulitan memulai tidur dan mempertahankan tidur dalam setahun, dengan 17% diantaranya mengganggu kualitas hidup. Menurut Biomedical Journal of Indonesia: Prevalensi Insomnia pada usia lanjut (Rasasta,2018) diisebutkan prevalensi insomnia setiap tahun di dunia diperkirakan sekitar 20%-40% orang dewasa mengalami sulit tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius. Dari hasil penelitian The Gallup Organization prevalensi sulit tidur (insomnia) pada usia lanjut di Amerika adalah 36% untuk laki-laki dan 54% untuk perempuan. Di Indonesia menurut US Census Bureu, International Data Base tahun 2004, sekitar 28,053 juta orang dari total penduduk 238,452 juta atau sekitar 11,7% menderita insomnia. Insomnia paling sering ditemukan pada usia lanjut. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67 %. Keluhan umum yang sering dijumpai pada lansia berupa kesulitan masuk tidur (sleep onset problem), mempertahankan tidur nyenyak (deep maintenance problem), dan bangun terlalu pagi (early morning awakening/EMA).

Secara global, perkiraan prevalensi insomnia bervariasi, dengan 30% hingga 43% individu melaporkan setidaknya mengalami satu gejala insomnia di malam hari. Sebagian besar laporan menunjukkan tingkat prevalensi gangguan insomnia sebesar 5% sampai 15%. Insomnia adalah masalah kronis dimana terjadi pada 31% hingga 75% pasien, dengan lebih dari dua pertiga pasien dilaporkan mengalami gejala insomnia minimal selama 1 tahun (Levenson dkk, 2015)

 

Hati-hati! Media Elektronik Berpengaruh Terhadap Insomnia pada Remaja

Oleh Judith Owens (2014) dalam Official Journal of The American Academy of Pediatrics disebutkan faktor penyebab insomnia pada remaja disebabkan karena pola tidur yang buruk, penggunaan media elektronik (televisi, komputer, gadget dan lain sebagainya), penyakit migren, nyeri, gangguan psikologi, depresi, kafein, nikotin dan rokok. Hal ini diperkuat dengan penelitian Haryono (2009) penyebab insomnia pada remaja usia 12-15 tahun disebabkan oleh gaya hidup remaja dan pola aktifitas remaja di luar jam sekolah.

Jam normal yang seharusnya digunakan untuk istirahat dan tidur bagi para remaja, dialihfungsikan oleh remaja untuk melakukan kegiatan lain. Kegiatan yang dilakukan oleh para remaja seperti mengerjakan tugas sekolah, menonton televisi ataupun waktu tidur malam remaja banyak digunakan untuk bermain games online dan bermain gadget. Aktivitas padat dan kompleks pada remaja mengakibatkan kelompok usia ini rentan mengalami gejala gangguan tidur salah satunya adalah insomnia.

 

Peningkatan Insomnia Masa Pandemi COVID-19

COVID-19 merupakan penyakit baru yang sudah menjadi pandemi global. Penyebaran yang sangat cepat di seluruh dunia banyak membuat masyarakat takut terinfeksi penyakit tersebut. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas dan pola tidur masyarakat yang menimbulkan terjadinya insomnia. Melalui systematic literature review yang dilakukan oleh Haryanti (2020) menunjukkan pandemi COVID-19 berdampak terhadap kejadian insomnia di masyarakat serta memperburuk gejala pasien yang sudah terdiagnosis insomnia. Hal ini terjadi karena ketakutan masyarakat terhadap penyakit COVID-19. Selain itu, kondisi pandemi COVID-19 cenderung memberi dampak negatif dalam beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas tidur seseorang karena banyak perubahan yang terjadi dalam rutinitas sehari-hari, hidup dalam ketidakpastian, rasa takut akan kesehatan, rasa khawatir akan situasi dan durasi pandemi yang berkepanjangan, kehilangan pekerjaan, isolasi mandiri di rumah, hilangnya tempat hiburan dan berkurangnya interaksi sosial antar individu.

 

Apakah Insomnia bisa Disembuhkan?

Simak Video berikut ini

 

Referensi

Kualitas Hidup Penderita Insomnia Pada Mahasiswa

The Pathophysiology of Insomnia

Prevalensi Gangguan Tidur pada Remaja Usia 12-15 Tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Clinical Practice Guideline on Management of Sleep Disorders in the Elderly

Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada

Meida Rasasta: Prevalensi Insomnia pada Usia Lanjut

Peningkatan Insomnia Selama Pandemi Covid-19